Kajian Filologis Terhadap Karya Sastra Bugis untuk Mengembangkan Pendidikan Karakter
DOI:
10.29303/jipp.v5i2.114Published:
2020-11-28Downloads
Abstract
Karya sastra dikenal dalam dua kelompok, yaitu sastra modern dan sastra tradisional. Karya sastra sangat kaya dengan nilai-nilai pendidikan karakter. Didalamnya tersimpan berbagai khasanah kebudayaan, tata krama dan nilai-nilai kehidupan masyarakat. Karya sastra yang dapat dipelajari bukan hanya karya sastra nasional saja, tetapi juga karya sastra yang bertema kedaerahan. Di dalam beberapa sastra daerah memiliki nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat membentuk dan mengembangkan potensi peserta didik agar berfikir positif, berhati baik, dan berperilaku baik. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif untuk menganalisis data. Alasan pemilihan desain deskriptif kualitatif karena penelitian ini mencoba mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan karakter dalam Sastra Bugis Pangeran Barasa. Dari cerita tersebut dapat ditemukan nilai-nilai pendidikan karakter berdasarkan teori Thomas Lickone yaitu karakter yang berkaitan dengan konsep moral, sikap moral, dan perilaku moral. Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakan bahwa karakter yang baik perlu didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Penelitian ini membuktikan bahwa karya sastra masyarakat Bugis terkandung nilai-nilai pendidikan karakter yang bisa menjadi acuan dalam pengembangan karakter. Hasil kajian penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran sastra karena terkandung nilai-nilai pendidikan karakter yang sesuai tujuan pendidikan dan pengajaran, seperti aspek pendidikan susila, sosial, perasaan, sikap penilaian, dan keagamaan.
Kata Kunci: Pendidikan karakter, Sastra Bugis, Filologi
References
Amin, K. F. (2016). Sastra Klasik Bugis Makassar. Makassar: Garis Khatulistiwa.
Baried, B. S. (1994). Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: Badan Penelitian dan Publikasi Fakultas (BPPF) Seksi Filologi, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada.
Cerbin, W., & Kopp, B. (2006). Lesson study as a Model for Building Pedagogical Knowledge and Improving Teaching. International. Journal of Teaching and Learning in Higher Education, 18(3), 250-257.
Fachruddin, A. E. (1999). Ritumpanna Welerennge: Sebuah Episoda Sastra Bugis Klasik Galigo. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Fajarini, U. (2014). Peranan kearifan lokal dalam pendidikan karakter. Social Science Education Journal, 1(2), 123-130.
Hasriadi, Rahman, N., Hukma, A., Anwar, & Idwar. (2003). La Galigo: Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia. Makassar: Pusat Studi La Galigo, Divisi Ilmu Sosial dan Humaniora, Pusat Kegiatan Penelitian Universitas Hasanuddin.
Herfanda, A. Y. (2008). Sastra sebagai Agen Perubahan Budaya dalam Bahasa dan Budaya dalam Berbagai Perspektif. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Kesuma, D., & Triatna, C. (2012). Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Khusniati, M. (2012). Pendidikan karakter melalui pembelajaran IPA. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 1(2), 204-210.
Kosim, M. (2011). Urgensi pendidikan karakter. Journal of Social and Islamic Culture, 16(1), 85-92.
Lickona, T. (1992). Educating for Character: How Our School Can Teach Respect and Responsibility. New York: Simon & Schuster, Inc.
Luthfi, K. M. (2016). Kontekstualisasi filologi dalam teks-teks islam nusantara. Jurnal Kebudayaan Islam, 14(1), 114-128.
Mustika, I., & Lestari, R. D. (2016). Hubungan minat baca dan kebiasaan membaca karya sastra terhadap kemampuan menulis puisi. Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 5(2), 15-31.
Rahman, D. A. (2012). La Galigo. Jogjakarta: DIVA Press.
Ramdhani, M. A. (2014). Lingkungan pendidikan dalam implementasi pendidikan karakter. Jurnal Pendidikan Universitas Garut, 8(1), 28-37.
Sabar, B. R. (2010). Pendidikan karakter sebagai upaya menciptakan akhlak mulia. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 16(3), 232-239.
Salim, M., Fachruddin, A. E., & Rahman, N. (1995). I La Galigo: Menurut Naskah NBG 188. Jakarta: Penerbit Djambatan.
Tumanggor, R. (2007). Pemberdayaan kearifan lokal memacu kesetaraan komunitas adat terpencil. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, 12(1), 9-12.
Usmar, A., Mattalitti, M. A., Chairan, & Tamin. (2012). Bunga Rampai Sastra Bugis: bacaan sejarah Sulawesi Selatan. Makassar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.
Wulandari, R. A. (2015). Sastra dalam pembentukan karakter siswa. Jurnal Edukasi Kultura, 2(2), 63-73.
Yunus, P. P. (2012). Makna simbol bentuk dan seni hias pada Rumah Bugis Sulawesi Selatan. Makassar: Universitas Negeri Makassar.
klik di sini 


















