Akulturasi Budaya Sasak dan Ajaran Islam Dalam Tradisi Belangon Pada Proses Penyembuhan Penyakit
DOI:
10.29303/jipp.v8i1b.1323Published:
2023-04-28Downloads
Abstract
Pemahaman dan pengetahuan masyarakat yang tidak mengenal tradisi umumnya hanya mengetahui tradisi kerakyatan, bukan nilai filosofis yang terkandung dalam tradisi tersebut, bahkan banyak masyarakat yang tidak mengenal tradisi yang ada di sekitar daerahnya sendiri. Hasil wawancara akrab dengan beberapa masyarakat di sekitar lingkungan Lenek, terungkap bahwa masih banyak masyarakat yang belum mengetahui dan mengetahui secara luas tentang keberadaan tradisi belangon. Tujuan penelitiaan saya ini adalah untuk: 1.Mendeskripsikan secara jelas bagaimana akulturasi budaya Sasak dan ajaran Islam terwujud dalam tradisi Belangon 2. Memahami bagaimana masyarakat Desa Kalijaga Baru mempertahankan tradisi Belangon sedangkan tradisi Belangon masih dipraktekkan oleh masyarakat adat Sasak warga Desa Kalijaga Baru. Teori yang digunakan dalam penelitian analitik dalam artikel akulturasi budaya sasak dan ajaran Islam pada teradisi belangon adalah Akulturasi seperti yang dijelaskan oleh J,L Gilin dan J.P Gilin (1967) mengubah perubahan yang dialami oleh masyarakat yang berbeda, tetapi tidak mencapai pencampuran yang signifikan dan konsisten dari kedua budaya tersebut. Penelitian ini merupakan jenis data kualitatif, dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Data yang dikumpulkan dalam artikel ini menjadi sasaran analisis kualitatif deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) dalam tradisi Belangon terjadi perpaduan budaya Sasak dan Islam yaitu adanya persembahan sesajen kepada mereka yang hadir pada saat proses belelangon (2) sesajen tidak dapat dilakukan dengan membawa pulang oleh keluarga yang terkena bencana. (3) Masyarakat Desa Kalijaga Baru selalu sadar bahwa seseorang memiliki penyakit bawaan dari nenek moyangnya dan tidak pernah meninggalkan tradisi ini. Hal ini didasarkan pada keyakinan mereka bahwa akan ada penyakit jangka panjang dari generasi ke generasi. Berdasarkan temuan di atas, alangkah baiknya jika para kepala daerah dapat lebih memperhatikan warisan leluhur yang harus selalu dilestarikan. Agar warga sekitar lebih mengenal dan peduli dengan warisan leluhurnya.
Keywords:
Akulturasi, Budaya, Belangon dalam Budaya Sasak.References
Abidin, Ali Zainal (2019). Anjuran Berziarah Kubur. Jember: NU Online https://islam.nu.or.id/post/read/37170/anj uran-melaksanakan-ziarah-kubur diakses pada 27 Januari 2020.
Bih, M. Mubasyarum (2018). Dalil Keutamaan Hari Jumat. NU Online: https://islam.nu.or.id/post/read/85135/dal il-keutamaan-hari-jumatdiakses pada 27 Januari 2020.
Choerul, A. (2017). “Tradisi Sambatan dan Nyadran di Dusun Suruhan”
.JurnalSabda Undip. 12(1), Juni 2017. Hlm. 77-90
Chandra, Hazani Dewi (2019). “pola komunikasi antar budaya dalam membangun harmonisasi masyarakat heterogen di Kota Mataram,” jurnal pendidikan dan ilmu sosial, 1(2), Desember.
Deddy Mulyana & Jalaludin Rakhmat (2005). Komunikasi Antar budaya panduan berkomunikasi dengan orang-orang berbeda budaya, Bandung; Remaja Rosdakarya
Departemen pendidikan Nasional (2008). kamu besar bahasa indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa
Dewi Chandra Hazani,“pola komunikasi antar budaya dalam membangun harmonisasi masyarakat heterogen di Kota Mataram,” jurnal pendidikan dan ilmu sosial,
Handayani (2015). Transformasi perilaku keagamaan (Analisis Terhadap upaya purifikasi aqidah melalui ruqiyah syri’iyah pada komunitas muslim jember), http://sociologyunej.blogspot.com diakses pada tanggal 26-September 2022
Hafidz, Muhammad (2017). “Popokan: Tradisi Perang Lumpur di Tradisi Desa Sendang, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang”. Jurnal Sabda Undip. 12(2), Hlm. 188-197
Kistanto, Nurdien Harry (2017). “Tentang Konsep Kebudayaan”. Artikel Kebudayaan. Semarang: Universitas Diponegoro.
Komalig, Yudi Novrian (2018). “Kajian Akulturasi Pada Aspek Intrmusikal Dalam Komposisi Musik Program ‘Watu Pinawetengan’ ”. Artikel Jurnal. Yogyakarta: Institut Seni Indonesia. Hal. 1937-1951.
Marzuki (2009). “Tradisi Budaya Masyarakat Jawa Dalam Perspektif Islam”. Artikel Jurnal. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Hal. 1-13.
Mundzir, Ahmad (2018). Kenapa Doa Itu Penting? NU Online: https://islam.nu.or.id/post/read/88687/ke napa-doa-itu-sangat-pentingdiakses pada 27 Januari 2020.
Poerwanto, Hari (2008). Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suryadi, Zakso Amrazi & Rustiyarso (2016). “Analisis Interaksi Sosial Asosiatif Pimpinan Dengan Karyawan Dalam Memotivasi Kerja”. Artikel Jurnal. Pontianak: Universitas Tanjungpura Pontianak. Hal. 1-13.
Waridah, S. (1997). Antropologi, Jakarta: Jakarta Bumi Aksara
License
Copyright (c) 2023 Alwi Alwi, L. Ahmad Zaenuri, Siti Nurul Yaqinah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
klik di sini 


















